Spot Foto Aesthetic di Museum Bahari Jakarta

Sejarah Singkat Museum Bahari

Kata Bahari menurut kamus umum yang ditulis oleh W.J.S. Poerwadarminta, diartikan sebagai sesuatu yang dahulu kala yang berkaitan dengan kelautan. Museum Bahari berarti tempat bersejarah yang menyimpan benda-benda kelautan khususnya di Jakarta.

Awal mula sejarah Museum Bahari dimulai ketika VOC masuk ke Indonesia. Dilansir dari wesbite resmi Mitra Museum Jakarta, Museum Bahari dibangun pada tahun 1718-1774. Saat itu Museum Bahari dibangun dengan tujuan untuk untuk menyimpan, memilah, dan mengepak rempah-rempah.

Pada tahun 1945, setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini digunakan oleh PLN dan PTT. Pada tahun 1972, gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu. Hingga saat ini, Museum Bahari dijadikan sebagai tempat wisata sejarah kemaritiman Jakarta.

Museum Bahari // Foto : Fidiyati

Lokasi

Wilayah di DKI Jakarta yang berbatasan langsung dengan laut adalah Kota Jakarta Utara. Oleh karena itu, Museum Bahari terletak di Jl. Ps. Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Kota Jakarta Utara.

Biaya Masuk

Untuk masuk ke dalam area Museum Bahari terdapat tiket masuk yang dikenakan pada pengunjung. Harga tiketnya cukup murah, terbagi menjadi 3 kategori yaitu untuk pelajar, mahasiswa dan umum. Untuk harga pelajar hanya perlu membayar Rp. 2000, Mahasiswa Rp. 3000 dengan menunjukan kartu pelajar dan mahasiswa. Untuk umum dikenakan biaya Rp. 5.000 / orang. Hal ini tentu sangat terjangkau, hanya dengan Rp. 2000 – 5.000 saja pengunjung bisa belajar sejarah maritim Jakarta.

Waktu Operasional

Museum Bahari buka setiap hari Selasa – Minggu, mulai pukul 08.00 – 17.00. Waktu yang paling pas untuk berkunjung ialah di pagi dan sore hari, karena pada saat itu matahari tidak terlalu terik. Karakter kawasan pesisir adalah cuaca yang panas menyengat pada siang hari, untuk mengatasi hal tersebut datanglah pada pagi atau sore hari.

Koleksi

Museum Bahari // Foto : Fidiyati

Barang-barang koleksi miliki Museum Bahari tertata rapih di dalam lorong-lorong museum. Terdapat koleksi kapal dari berbagai penjuru nusantara, seperti kapal nelayan Madura, Papua, Jawa Timur, dan lain-lain. Di bagian gedung lainnya terdapat koleksi ikan tangkapan yang ada di laut Jakarta. Terdapat juga penyu, kerang, dan gurita mati yang diawetkan.

Spot Foto Aesthetic

1. Pintu Masuk Museum

Museum Bahari // Foto : Fidiyati

Sebenarnya ada banyak sekali spot foto aesthetic di Museum Bahari. Namun, salah satu yang paling mewakili adalah pintu masuk Museum. Gedung Museum Bahari yang terpisah-pisah memiliki beberapa pintu masuk. Foto ini dambil pada mintu masuk gedung ke-2 sekitar pukul 10 pagi.

Lokasi Museum Bahari yang dekat pantai, membuat pencahayaan mataharinya disini cukup bagus, ditambah langit biru cerah di atasnya.Pengunjung dapat berpose menarik dan aesthetic di spot ini.

2. Pelataran Museum

Museum Bahari // Foto : Fidiyati

Tempat lain yang tidak kalah aesthetic adalah pelataran museum. Terdapat beberapa pelataran yang memisahkan gedung Museum Bahari. Di pelataran ini terdapat kursi-kursi untuk duduk. Agar tidak terlalu panas, terdapat juga pohon kelapa sebagai penyejuk.

Gedung Museum Bahari menggunakan ciri khas arsitektur Belanda, pintu dan jendelanya terbuat dari kayu. Mirip seperti Lawang Sewu Semarang, disini jendela akan dibuka agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruang museum. Ornamen kayu yang digunakan memberikan kesan aesthetic. Spot ini cocok sekali untuk digunakan sebagai area berfoto bagi pengunjung museum.

3. Menara Syahbandar

Museum Bahari // Foto : Fidiyati

Menara Syahbandar tidak kalah aesthetic dengan Museum Bahari. Hanya berjarak sekitar 50 meter, terdapat bangunan Menara Syahbandar. Dilansir dari website Mitra Museum Jakarta, Menara Syahbandar dibangun pada tahun 1839 yang difungsikan sebagai menara pengawas dan pengatur lalu-lintas kapal di Pelabuhan Batavia. Menara Syahbandar lokasinya bersebelahan dengan sungai Ciliwung.

Yuk berkunjung ke Museum Kebaharian Jakarta. Selain belajar sejarah, kamu juga berpartisipasi dalam melestarikan cagar budaya DKI Jakarta.

Baca juga yuk artikel lainnya: