Pohon Bambu Bisa Cegah Erosi Dan Banjir

teknologi bambu atasi banjir tanah longsor

Indonesia merupakan negara hujan tropis dengan curah hujan tinggi. Tanaman bambu banyak tumbuh di kawasan hujan tropis, selain sebagai material bahan bangunan pohon bambu juga dapat menjadi pencegah erosi dan banjir.

Penanaman bambu di kawasan hulu dan sempadan sungai adalah solusi lebih murah dan efektif dibandingkan pembetonan masif dengan maksud menangkal banjir atau banjir bandang. Tanaman itu menanggulangi erosi karena akar-akar serabutnya menstabilkan tanah sekaligus mengonservasi air.

Dari 1.439 jenis bambu di dunia, 162 jenis bambu ada di Indonesia. Dari semua yang tumbuh di Tanah Air, 124 jenis asli Indonesia dan 88 jenis endemis.

Pakar taksonomi bambu pada LIPI, Elizabeth A Widjaja, mengatakan, pembuatan beton di sempadan sungai memang menjadi jalan cepat menahan erosi. Namun, pembetonan hanya menstabilkan tanah secara kinetik, sedangkan tanah sempadan sungai tetap tidak stabil. Dalam jangka panjang, sempadan tidak mampu menahan erosi saat air datang melimpah. (dikutip dari lipi.go.id)

manfaat bambu tali
bambu tali // foto google picture

Peran bambu

Hasil penelitian penanaman bambu, erosi yang semula 4.235 ton per kilometer persegi dapat berkurang hingga 436 ton per km persegi. Itu lima tahun setelah penanaman. Bambu di hulu dan sempadan sungai dapat berfungsi efektif setelah tiga tahun penanaman, yakni ketika akar-akar serabutnya mampu menahan erosi tanah.

“Bambu memang tidak bisa diharapkan langsung menahan erosi seperti beton, tetapi bambu dapat efektif dalam jangka panjang,” ujar Elizabeth.

Di sisi lain, pembuatan dan perawatan beton lebih mahal. Menurut Elizabeth, pembetonan butuh biaya sekitar Rp 2,5 juta per meter persegi, perawatan intensif, dan jika ada bagian yang pecah harus dibeton kembali. Sementara itu, harga bambu hanya Rp 10.000 per rumpun dengan biaya penanaman yang murah, perawatan cukup dengan penjarangan (mengurangi jumlah tanaman untuk memberi ruang tumbuh), dan jika terguling, rumpun cukup ditegakkan.

Baca juga :

Namun, untuk kebutuhan penanggulangan bencana, jenis bambu tidak boleh sembarangan. Bambu petung yang berukuran besar dan bernilai ekonomis, misalnya, dapat roboh jika dihantam aliran air deras.

Untuk wilayah sempadan sungai, Elizabeth merekomendasikan bambu ampel atau bambu kuning (Bambusa vulgaris), atau jika di Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua dapat menggunakan bambu loleba (Neololeba atra), ditanam lima meter dari pinggir sungai. Di bagian tebing, direkomendasi penanaman bambu suling (Schizostachyum iraten, S. silicatum, dan S. lima).

Pengganti beton

Proses perbaikan DAS Cimanuk pasca banjir bandang di Garut, Jawa Barat, September lalu, juga melibatkan penanaman bambu. Meski demikian, kata Elizabeth, pembetonan di sempadan dapat dilakukan jika mendesak, asalkan disertai penanaman bambu sekitar lima meter dari beton. Setelah beberapa tahun, dan beton rusak, bambu sudah bisa menggantikan peran beton.

bambu apus cocok untuk kerangka atap
bambu apus cocok untuk kerangka atap

Selain menahan erosi, bambu juga menyimpan air. Batangnya bersifat kapiler sehingga mengisap dan menampung air. Itu menimbulkan mata air, terutama saat musim kemarau.

Di Gunung Semeru, Jawa Timur, saat kemarau, debit air semula 350 liter per detik. Setelah hutan bambu 14 ha di atas Desa Sumber Deling terawat, debit air 600-800 detik. Di musim hujan, debit air 1.000 liter per detik.

Melihat potensi bambu selain sebagai tanaman penyangga, bambu juga punya nilai ekonomis yang cukup lumayan jika dibudidayakan dengan benar, karena kebutuhan material bangunan akan bambu cukup tinggi.

Baca artikel lainya :

sumber referensi : dikutip dan dirangkum dari berbagai sumber